Hati-Hati Dengan Gosip

Salah satu penyakit masyarakat yang sering muncul adalah bergosip. Dalam hal ini bergosip bisa disebut juga ghibah yaitu membicarakan orang lain tanpa sepengetahuan orang yang dibicarakan , baik isi pembicaraan itu disenanginya ataupun tidak disenanginya, kebaikan maupun keburukan. Sikap ini sangat sulit dihindari, bahkan semakin banyak orang yang tidak menyukai orang lain, semakin banyak gosip bermunculan. Contohnya, ketika seseorang tidak menyukai tetangganya, dia nekad menyebarkan gosip-gosip tentang tetangganya tersebut.

Perlu kita ketahui, bahwa menyebarkan gosip adalah perbuatan yang tercela. Setiap yang melakukannya akan mendapatkan balasan dari apa yang telah ia perbuat. Dalam Al-Quran Allah SWT berfirman “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar” (QS.An-Nuur:11)

Ketika kita asyikmembicarakan kekurangan orang lain, tanpa sadar kita lupa dengan diri sendiri. Seolah-olah kita adalah mahluk paling sempurna yang tidak cacat dari kekurangan. Seperti kata pepatah, “Kuman diseberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tiada tampak”. Perbuatan seperti ini selain tidak pantas, ternyata Islam pun mengharamkannya bahkan Islam menyuruh kita agar menutup dan merahasiakan aib saudara kita.

Sebagai seorang muslim, hendaknya kita bisa menjaga lisan. Jangan sampai lisan kita dikotori oleh ucapan-ucapan yang dapat merugikan orang lain dan juga diri sendiri. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda “Wahai sekalian orang yang beriman dengan lisannya dan iman itu belum masuk ke dalam hatinya. Janganlah kalian menggibah kaum muslimin dan jangan mencari-cari/mengintai aurat mereka. karena orang yang syja mencari-cari aurat kaum muslimin, Alloh akan mencari-cari auratnya. Dan siapa yang dicari-cari auratnya oleh Alloh, niscaya Alloh akan membongkarnya didalam rumahnya (walaupun ia bersembunyi dari manusia)”. (HR.Ahmad dan Abu Dawud)

Selain itu, kita harus bisa menjauhkan diri dari sifat buruk sangka dan penuh kecurigaan, seperti dalam firman Alloh SWT, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS.Al-Hujuraat : 12)

Adapun dalam keadaan mendesak atau darurat, ghibah diperbolehkan akan tetapi hanya dalam beberapa kondisi, seperti seseorang sedang dizolimi, namun apa yang diceritakan hanya sebatas kedzoliman dan dapat menimbulkan manfaat, contohnya melaporkan seseorang pencuri kepada polisi. Kemudian ghibah diperbolehkan pada saat memperingatkan kaum muslimin dari suatu bahaya. Misalnya ada aliran sesat yang bisa membahayakan aqidah kaum muslimin. Begitu pula dalam masalah kritik terhadap perawi hadits dan dalam proses ta’aruf agar mendapatkan informasi yang salah mengenai calon pasangan hidupnya.

Ghibah atau membicarakan orang lain adalah perbuatan setan. Apapun akan dilakukan setan agar umat manusia terpecah-belah. Kita harus bisa memeranginya dengan terus menerus berpikiran positif terhadap orang lain dan selalu meminta perlindungan Alloh SWT. Jangan biarkan setan terus menerus merusak hubungan kita dengan orang lain dan orang yang terkasih.

Untuk itu, ketika kita menyaksikan orang-orang sedang berkumpul karena bergosip, maka jangan sampai ikut bergabung. Akan tetapi, hendaknya kita memberikan nasehat bahwa perbuatan itu sangat diharamkan oleh Islam. Semoga kita bisa menjaga lisan ini dari hal-hal yang dilarang oleh Islam, sehingga Alloh ridho kepada kita. Amiiiiiin….

Sumber : Buletin Ikhlas, Edisi 09 Volume 1, Robiul Awal 1432, Maret 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s