Kisah Nabi Musa

Suatu ketika Nabi Musa AS berjalan kaki melewati sebuah perkampungan, ia merasa heran karena kampung tersebut sangat sepi. Rupanya para penduduk kampung berkumpul di suatu tanah lapang. Di depan mereka ada seorang laki-laki yang diikat di sebatang pohon.

Waktu ditanya oleh Nabi Musa, “Kenapa dia diikat?” Mereka menjawab, ”Ya Musa! Inilah laki-laki yang mencuri barang-barang kami. Saat ini kami akan menghukum dia. Karena engkau singgah di sini, maka kami serahkan masalah ini kepadamu supaya engkau bertindak sebagai hakim!”

Nabi Musa menerima tugas tersebut dan berkata ”Baiklah! Bila saya diangkat menjadi hakim, maka ada beberapa hal yang harus kalian lakukan. Yaitu, pertama, silakan semua orang mencari senjata untuk menyakiti pencuri ini.”

Setelah semuanya mendapatkan senjata, Nabi Musa memberi tugas yang kedua, ”Siapkan senjatamu, angkat ke atas dan lemparkan ke tubuh laki-laki itu. Syaratnya yang berhak melemparkan senjatanya adalah mereka yang belum pernah menjadi maling.”

Apa yang terjadi? Setelah ditunggu sampai setengah jam tidak ada satu pun yang bergerak, dan melemparkan senjatanya. Tak lama kemudian majulah seorang kakek sambil berkata, ”Ya Musa! Walaupun kau tunggu sampai satu hari pun, tidak akan ada satu orang pun dari kami yang bereaksi, karena kami semua pernah jadi maling.”

Cerita maling, sekarang ini jarang kita temui seperti cerita maling jaman dulu. Dulu ada yang disebut maling budiman, maling yang megambil harta orang kaya untuk dibagikan kepada orang miskin atau yang tidak punya. Dia sendiri tidak memerlukannya, cukup sekedarnya. Makanya jarwo dhosoke maling itu jupuk amale wong sing ora eling (mengambil barang orang yang lupa diri selalu numpuk – numpuk harta). Kalau sekarang kagak ada cerita maling budiman. Semua maling itu jelek. Bahkan saking jeleknya, kalau ketangkap sudah pasti dihajar, digebukin dan kalau perlu dibakar hidup – hidup. Ngeri. Sebab maling sekarang bukan lagi sebentuk perlawanan terhadap ketimpangan, tetapi lebih sebagai perilaku dan penyakit sosial masyarakat. Kita banyak menengarai maling, baik yang kelas kakap maupun kelas teri. Bahkan para perompak itu lebih borju hidupnya dan disegani di sekitarnya. Aneh. Tetapi itulah realitanya. Oleh karena itu, jangan sampai kita ini menjadi maling. Tapi sadarkah kita bahwa sebenarnya potensi menjadi maling ada pada diri kita semua? Mana, kok bisa? Inilah faktanya.

Pertama, maling sholat. Rasululloh SAW bersabda; ”Seburuk-buruk pencuri adalah orang yang mencuri shalatnya.” Mendengar perkataan ini, para sahabat bertanya: ”Ya Rasulullah, bagaimana orang mencuri shalatnya itu?” Berkata Rasulullah SAW: ”Yaitu tidak ia sempurnakan ruku’nya dan sujudnya.” (HR Ahmad dan Tirmidzi dari Abu Qatadah).

Kenapa dikatakan paling jelek? Ini yang jarang kita temukan jawabannya. Karena yang kita curi adalah hak kita sendiri, tabungan kita sendiri. Umumnya mencuri atau maling itu ya punya orang lain. Tapi dalam sholat justru yang dicuri itu adalah kewajibannya sendiri. Bakal miliknya sendiri nanti di alam sana. Tapi begitu tega justru malah dikemplang sendiri. Kalau banyak cukong yang kalap dengan pencurian kayu, itu biasa. Karena yang diambil adalah bakal milik anak cucunya nanti. Banyak taipan ngemplang BLBI karena dia tahu itu adalah punya negara. Kalau tidak dia yang ambil mungkin orang lain yang dapat. Tapi kalau milik sendiri, tapi dicuri sendiri, sungguhlah keterlaluan namanya. Jadi seolah-olah tidak tahu cara mencuri sampai-sampai punya sendiri dicuri.

Kedua, maling rejeki. Bahwa sebagian dari rejeki yang diberikan Allah itu ada infaknya. ” Dan sebahagian dari apa-apa yang memberi rezki kami, mereka mau menginfakkan. ” (Q.S Al-Baqoroh : 2). Di ayat lain malahan Allah mengingatkan bahwa pada harta kita ada bagian untuk orang yang meminta-minta, bagian orang-orang fakir dan juga orang miskin. Jadi, ada haknya di harta kita yang harus kita keluarkan. Setiap bulan ramadhan kita diwajibkan mengeluarkan zakat, adalah sebagai bagian dari membersihkan harta. Karena ada hak orang lain didalam rejeki pemberian Allah itu. Jadi kalau kita tidak mengeluarkan, berarti kita telah menahan dan jika benar-benar kita tidak mengeluarkannya dan justru memakainya berarti kita telah mengambil hak orang lain. Dan pengambilan hak orang lain, tak lain adalah maling bukan? Selain itu ada perintah shodaqoh, mengajak makan orang miskin adalah bentuk-bentuk lain agar kita tidak terpolusi dengan virus maling ini. Bahkan, Allah malah mengeluarkan bebungah berupa ganti yang berlimpah jika kita tidak jadi pencuri. Mau infaq, mau zakat dan mau shodaqoh. Hebring kan?

Memang kita hidup di jaman yang sulit. Kata orang negeri kita penuh kecurangan dan kekurangan. Banyak maling dan brandal. Janganlah kita terpengaruh untuk menjadi maling secara profesional, rame-rame. Cukuplah kita menjaga agar tidak menjadi sejelek-jeleknya maling, yaitu merampok diri sendiri.

Kalau boleh berandai, kita hidup di dalam cerita di atas, apakah kita termasuk orang yang melempar senjata atau diam saja? Mari berhitung kembali dengan harta dan diri kita.

Sumber : matematikacerdas.wordpress.com

2 responses to “Kisah Nabi Musa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s